09 Desember 2007

Seni dan Makna Rencong Aceh (Jenis Keahlian Tradisional Masyarakat Aceh)

Oleh: Cut Zahrina

Pendahuluan
Kesenian memiliki makna yang luas, tidak terbatas hanya pada satu persoalan saja. Sebelum kita membahas secara jauh maka ada baiknya terlebih dahulu kita memahami makna dari kesenian. Kesenian berasal dari kata seni, menurut kamus seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya dan sebagainya ; seni juga sebuah karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa, seperti : tari, lukisan, ukiran, yang termasuk juga di dalamnya seni kriya yaitu kerajinan tangan . Aktivitas masyarakat seringkali tidak lepas dari unsur seni sehingga seni menjadi bahagian yang penting dan bahagian dari wujud kebudayaan.

Setiap masyarakat memiliki ragam seni tersendiri, berbeda antara satu dengan yang lainnya karena dipengaruhi oleh pola pikir, lingkungan, maupun letak wilayahnya. Seni berkaitan dengan ekpresi, bagi Dilthey (1979,1986) ekspresi adalah sumber pengetahuan tentang manusia, yang mempunyai enam ciri : suatu ekpresi selalu mempunyai makna tertentu ; ada hubungan yang unik antara ekpresi dan apa yang diekpresikan 2. Hubungan itu tidak berbentuk kausal dan tidak bersifat temporal ; ekpresi adalah ciri fisik yang menunjuk pada kandungan mental ; ekpresi muncul dalam konteks atau merupakan bahagian dari konfigurasi ; mempunyai aturan tertentu, baik tertulis (seperti bahasa), maupun tidak ; ekpresi mempunyai dua sifat yang bertentangan, disatu pihak bersifat purposif (dapat muncul berupa tulisan, suara dan gerak yang disengaja)3, dalam suasana tertentu dapat juga berupa tindakan yang tidak sengaja akan tetapi memiliki makna.

Ekpresi ada dua dasar terjadinya yaitu pikiran dan suasana kehidupan. Ekpresi yang timbul dari intensi pikiran, misalnya konsep dan struktur pikiran. Keduanya adalah unsur pokok dalam ilmu pengetahuan dan berurusan dengan logika. Oleh karena itu, ekpresi yang dimaksudkan dalam kategori ini ada dalam bidang keilmuan dan menuntut adanya validitas yang lepas dari situasi yang dimunculkannya. Dasar kedua bagi lahirnya suatu ekpresi adalah suasana dan pengalaman hidup (life – expressions)4. Dalam kategori ini ekpresi bukan intensi pikiran , tetapi dikondisikan oleh pikiran. Berbeda dengan ekpresi yang lahir dari pikiran, maka life –expressions lebih banyak menampilkan segi-segi kehidupan, dengan sifat emosi dan psikologik yang cukup menonjol. Perbedaan lain dari yang disebutkan sebelumnya adalah tidak bisa dilepaskan ekpresi ini dari konteksnya. Pemahaman jadi sangat sulit karena interpretasi dapat berubah tergantung dari suasana konteks itu. Meskipun demikian, melalui ekpresi jenis ini orang dapat memahami suatu kandungan mental, sekalipun persoalan tersebut bukan menjadi tolak ukurnya. Sifat ekpresi yang seperti ini sama dengan sifat symbol yang menyatakan tetapi sekaligus juga menyembunyikan makna symbol itu sendiri.

Beranjak dari ciri-ciri tersebut di atas, apakah dengan mengkaji karya seni maka dengan sendirinya kita dapat mengkaji aspek mental senimannya?. Dalam hal ini Dilthey membedakan dua bentuk karya seni yaitu ; karya seni yang disebutnya otentik dan karya yang tidak otentik. Suatu karya yang tidak otentik tidak berbicara tentang kandungan mental senimannya, karena karya semacam itu hanya merupakan ilusi. Karya ini bisa dianggap lepas dari kandungan mental sang seniman, karena interes sang seniman sangat dipengaruhi oleh hal-hal praktis yang lebih kuat dari pengalaman hidup yang tersimpan dalam kandungan mentalnya. Dalam kondisi seperti ini tampaknya kita hanya dapat memasuki sisi interes seniman itu dan tidak sampai meluas pada kandungan mentalnya. Sebagai contoh adalah interes seniman yang berkarya karena kebutuhan material.

Berbagai bentuk karya seni merupakan ekpresi identitas, pernyataan seperti ini karena dipengaruhi oleh dua persoalan. Pertama, para peneliti berhasil memasuki kandungan mental seniman yang melahirkan karya-karya otentik, seperti misalnya penelitian Kenneth George tentang kaligrafi Pirous. Persoalan kedua, proses dari pemaknaan suatu karya seni dianggap cukup penting sehingga pada gilirannya karya itu dapat menjadi ajang kontestasi untuk bisa menjadi representasi identitas. Salah satunya adalah contoh dari proses pemaknaan ekpresi seni itu, sangat jelas pada kajian Jennifer Santos tentang kerajinan tangan masyarakat desa Tegallalang, Bali.

Dalam kondisi sekarang ini tidak ada lagi karya seni yang mengekpresikan satu identitas, karena katakanlah bahwa identitas nasional dan global telah masuk manjadi bahagian dalam karya seni itu. Paham tentang konsep identitas bergeser menjadi representasi identitas yang tidak lagi merujuk pada satu ciri suatu kelompok masyarakat, tetapi sebagai wadah terjadinya konstestasi. Dengan demikian ekpresi tidak lagi dapat dilepaskan dari politik kebudayaan. Isu yang berkembang pun pindah, karena orang mulai memperhatikan masyarakat heterogen dengan kebudayaan yang sifatnya plural, yang pada gilirannya menjadi bahagian penting dari studi tentang masyarakat multikultural yang menekankan adanya sejumlah besar perbedaan di dalam masyarakat yang plural dan heterogen itu, termasuk identitasnya. Dengan kata lain, konsep multicultural mengakui adanya perbedaan-perbedaan di dalam identitas yang berbeda itu (intra cultural differentiations).

Berkaitan dengan penjelasan ekpresi seni yang tersebut di atas maka pandai besi merupakan bahagian dari ekpresi seni , berawal dari ide dan tertuang dalam penempaan besi dengan model bervariasi, indah dan menarik. Adapun alat-alat perkakas yang dibuat antara lain : perkakas pertanian seperti : cangkul, parang, lham, mata langai dan sebagainya. Alat rumah tangga seperti : geunuku (alat mengukur kelapa), sundak (alat mengupas kelapa), sikin (alat pemotong sayur), parang (alat pemotong kayu), rheun (alat pembelah kayu) lesong beuso (alat menumbuk tepung), cubek (tempat menumbuk sirih), cupeng (alat penutup kemaluan anak perempuan), mandroh dan sebagainya. Alat-alat untuk berburu seperti : tumbak. Peralatan ini merupakan hasil dari pandai besi yang dipakai untuk keperluan sehari-hari dan berkembang menjadi mata pencaharian masyarakat. Topik kajian kita kali ini adalah rencong. Rencong sangat terkenal sebagai alat senjata untuk mempertahankan diri dan mengandung makna-makna tertentu yang diyakini oleh masyarakat Aceh. Sejauhmana tehnik pembuatan rencong dan makna-makna yang terkandung di dalamnya maka akan diungkapkan dalam hasil tulisan ini.

Cara Membuat Rencong
Tehnik pembuatan alat-alat dari besi sudah berkembang di daerah Aceh. Di samping dibuat untuk keperluan sendiri, juga untuk dijual ke daerah lain di dalam maupun di luar Aceh. Teknik pembuatannya sudah mencapai tingkat yang baik, barang-barang yang diproduksi sering tidak mencukupi. Hal ini dapat menambah gairah para pekerja untuk memproduksi lebih banyak dan meningkatkan kualitas mutunya, sehingga rencong bentuknya bervariasi serta ukiran-ukiran yang menarik. Para pendatang dari luar daerah banyak yang membawa rencong hias sebagai cindera mata dari Aceh.

Bahagian-bahagian rencong adalah : Hulu rencong ; Ukiran rencong ; Perut rencong ; Ujung rencong ; Batasan rencong. Untuk memperindah rencong maka diperkaya dengan variasi membuat ukiran pada gagangnya. Ukiran-ukiran dari emas digunakan pada hulu, puting dan batang rencong. Bentuk ukiran ini tergantung pada keinginan sipemakai atau penciptanya.

Untuk memperindah seni yang terdapat pada sebuah rencong maka ditambah lagi dengan pembuatan sarungnya. Sarung rencong biasanya dibuat dari kayu ataupun tanduk kerbau dan ada dari gading gajah. Kayu yang dipergunakan antara lain : bak keupula (bunga tanjung), bak panah (batang nangka), bak mee (batang asam jawa) dan lain sebagainya.6 Adapun motif-motif sarung rencong terdiri dari motif fauna dan motif flora. Motif fauna adalah : ukiran ular, naga, ayam jago, burung nuri, kupu-kupu dan sebagainya sedangkan motif flora adalah : gambar-gambar bunga, buah dan daun.

Produksi barang-barang tersebut dibuat pada tempat penempaan besi yang disebut pandei beuso. Tiap pandei beuso (pandai besi) dipimpin oleh seorang utoh beuso (tukang / pandai besi) dan seorang asisten serta para pekerja.

Alat yang digunakan para pandei beuso (pandai besi) antara lain : tungku (tempat menghidupkan api), pompa angin untuk meniup api yang terbuat dari kulit kambing, tempat air untuk menyepuh besi, palu besi, gergaji besi, kikir, alas untuk tempat memukul besi dan membentuk benda yang akan ditempa, Jepitan dan lain-lain. Adapun bahan baku yang dipergunakan : besi biasa, besi baja, besi hancuran, tembaga dan besi putih dengan catatan besi tidak boleh berkarat.
Besi untuk membuat rencong harus besi pilihan yang baik dan bebas dari karat, biasanya besi putih agar tidak berkarat, namun boleh juga besi-besi lain, ini tergantung pada keinginan sipembuat atau sipembeli. Besi putih lebih mahal harganya dari pada besi biasa . Ada juga rencong yang dibuat dari besi yang dicampur dengan sedikit tembaga atau kuningan ataupun emas. Hal ini penting kalau sekiranya ada orang yang mempunyai ilmu ghaib (magic) terhadap senjata dari besi, maka dengan adanya tembaga atau emas pada rencong tersebut maka diperkirakan kekebalan ilmunya akan berkurang. Lain halnya dengan besi untuk membuat pisau dapur , ini cukup besi apa saja. Untuk membuat parang ini memerlukan besi yang keras agar parang tersebut tidak lembek atau patah (biasanya per motor atau besi rel kereta api) dan nantinya dapat menghasilkan parang yang tajam

Seni Rencong
Rencong termasuk salah satu hasil seni tradisional, sejak zaman dahulu rencong dalam penggunaannya berfungi sebagai berikut : Sebagai perhiasan ; rencong ini dipergunakan sehari-hari sebagai perhiasan (pakaian) yang diselipkan di pinggang ; Sebagai seni (seni ukir) dan sebagai alat kesenian seperti dipakai dalam pertunjukkan tari seudati ; Rencong sebagai perkakas dipergunakan sebagai alat pelobang pelepah rumbia dan sebagainya ; Rencong sebagai senjata perang untuk menghadapi musuh-musuh peperangan yang ingin menjajah Aceh seperti Inggris, Belanda dan sebagainya. Menurut catatan sejarah rencong mulai dipakai pada masa Sultan Ali Mugayatsyah memerintah Kerajaan Aceh pada tahun 1514-1528. Pada waktu itu masih berorientasi pada kepercayaan Islam yang sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial budaya masyarakat di daerah aceh. Sehingga kedudukan rencong adalah sebagai berikut : gagangnya yang melekuk kemudian menebal pada bahagian sikunya merupakan aksara Arab Ba ; Bujuran gagang tempat genggaman berbentuk aksara Arab Sin ; Bentuk-bentuk lancip yang menurun ke bawah pada pangkal besi dekat gagangnya merupakan aksara Arab Mim ; Lajur-lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya merupakan aksara Arab Lam dan ujung yang runcing sebelah atas mendatar dan bahagian bawah yang sedikit melekuk ke atas merupakan aksara Arab Ha. Dengan demikian rangkaian dari aksara BA, MIM, LAM dan HA itu mewujudkan kalimah “BISMILLAH”. Ini berkaitan dengan jiwa heroic dalam bentuk senjata tajam yang dipakai sebagai senjata perang untuk mempertahankan agama Islam dari penjajahan orang-orang yang anti Islam. Saat sekarang ini untuk kawasan Aceh Besar tempat penempaan rencong terdapat di desa Bait (Sibreh ) dan desa Lamblang (Darul Imarah). Pada zaman dahulu tempat penempaan ini tersebar di seluruh Aceh Besar yang antara lain : Kampung Pandee ; Seuneulop ; Lam Blang ; Baid ; Ulee Kareng ; Lam Pakuk ; Indrapuri ; Seulimeum ; Lhong dan sebagainya. Namun untuk saat sekarang tempat tersebut ada yang masih diperdayakan dan banyak juga yang sudah tidak diperdayakan lagi. Ini disebabkan oleh faktor kemampuan sumber daya manusia maupun karena keterbatasan modal usahanya.
Jenis-jenis rencong antara lain : Rencong Meupucok, Rencong Meucugek, Rencong Meukuree dan Rencong Pudoi.

1. Rincong Meupucok
Rencong yang mempergunakan ukiran emas pada gagang bahagian atas. Gagangnya kelihatan kecil pada bahagian bawah dan mengembang membesar pada bahagian atasnya. Permukaan pada bahagian atas berukiran emas. Bentuk ukirannya antara lain : Kembang berantai, Kembang daun, Kembang mawar dan ada juga berbentuk aksara Arab. Hulu rencong Meupucok adalah ditutupi dengan ukiran emas pada bahagian atas, dibungkus dengan emas bahagian putingnya dan biasanya terbuat dari tanduk dan gading.

2. Rencong Meucugek
Rencong ini mempergunakan cugek (bergagang lengkung 90 %). Cugek melengkung ke bahagian belakang mata rencong kira-kira 15 cm sehingga dapat berbentuk siku-siku. Cugek ini gunanya efektif tidak mudah lepas dari tangan saat melakukan pembelaan diri, sehingga dapat mmenerkam dan menikam lawan secara bertubi-tubi serta mudah dicabut kembali walaupun sumbunya dalam keadaan berlumuran darah oleh karena cugek sebagai penahan pergelangan tangan bahagian belakang.

3. Rencong Meukuree
Rencong yang mempunyai kuree pada mata. Bentuk kuree bermacam-macam ada yang berbentuk seperti : bunga-bunga ; ular ; lipan ; akar kayu ; daun ; dan kayu-kayuan. Gambar ini bukan sengaja dibentuk, tetapi terbentuk secara sendirinya waktu rencong itu ditempa. Rencong ini berbeda dengan yang lainnya, semakin lama disimpan semakin banyak kureenya dan semakin mahal harganya serta semakin bertambah magisnya.

4. Rencong Pudoi
Pudoi artinya menengah (biasa). Ini dapat di lihat dari gagangnya. Gagang rencong ini tidak sama dengan rencong meupucok, meucugek atau meukuree. Hulu rencong Pudoi adalah pengangan tanpa variasi, kelah (pembungkus bahagian bawah hulu dan puting yang kadang-kadang dibesarkan sedikit agar tidak tertutup dengan gagang yang sederhana bila ditancapkan pada sasarannya. Gagang rencong Pudoi ini tidak ada lengkungnya. Sejarah rencong Pudoi ini mulai tahun 1904 Belanda tidak memperbolehkan memakainya. Sehingga larangan tersebut sangat melukai hati orang Aceh dan bertentangan dengan adat istiadat yang berlaku pada waktu itu. Maka jalan lain adalah mengelabui peraturan Belanda tersebut dengan cara merubah bentuk rencong meucugek (meucangee) kebentuk lain yaitu rencong rencong Pudoi. Dengan perubahan bentuk maka orang Aceh tetap memakainya tanpa diketahui oleh orang Belanda kecuali diperiksa seluruh badannya. Adapun untuk menyembunyikan keberadaan rencong maka diselipkan di pinggang di bawah kain sarung ataupu celana tanpa di ketahui oleh Belanda, sehingga mereka tidak mematuhi larangan Belanda.

Makna Rencong Dalam Masyarakat Aceh
Rencong salah satu senjata tradisional dan dianggap berkhasiat, tidak sembarangan dalam proses pembuatannya. Cara menempanya dan memilih besi tidak boleh sembarangan seperti membuat jenis senjata tajam lainnya. Terwujudnya sebilah rencong yang berbentuk tulisan Bismillah dengan nama Allah dalam bentuk aksara Arab. Ciri khas dari bentuk gagangnya tampak sangat berlainan dengan senjata-senjata lain di seluruh Indonesia (seperti keris di Jawa). Rencong pada bahagian ujung gagangnya merupakan genggaman tangan sedikit dibengkokkan ke atas, sehingga dengan demikian jika rencong tersebut telah berlumuran darah genggaman tetap tidak akan terlepas. Inilah sebabnya tentara Portugis menjadi kagum menghadapi pasukan Kerajaan Aceh (Sultan Al- Qahar) dalam pertempuran-pertempuran jarak dekat yang telah menggunakan rencong sebagai senjata ampuhnya. Rencong sangat berguna pada masa Kerajaan Aceh, ini dapat dibuktikan dengan terusirnya tentara Portugis di selat Malaka dan mengahalau tentara Portugis yang ingin mencengkram kukunya di Pulau Sumatera.

Dalam masyarakat Aceh terdapat kepercayaan bahwa rencong ada yang berkhasiat dan ini biasanya merupakan warisan yang dipelihara secara turun menurun dan dijaga dengan baik. Rencong pusaka ini tidak boleh dipakai sembarangan saja kalau tidak perlu betul atau dalam kondisi terdesak baru boleh untuk dipakai. Oleh karena rencong mempunyai kekuatan-kekuatan tertentu, serta untuk menjaga kehormatan. Menyimpannya tidak boleh sipemakainya sembarangan tempatnya harus dirahasiakan.

Di samping itu rencong juga memiliki khasiat apabila kita pergi merantau atau berjalan di malam hari dalam gelap maka akan menjadi teman atau kawan, karena makhluk-makhluk seperti :

Jin, Iblis dan Tulueng Dong7 ( secara harfiah artinya tulang atau kerangka manusia yang berdiri), maka rencong dapat melindungi orang tersebut. Ini disebabkan oleh adanya kekuatan gaib yang terkandung dalam rencong pusaka yang diselipkan pada pinggangnya.

Persoalan lain yang dapat membantu dengan adanya rencong pusaka adalah bila ada orang kemasukan, dengan merendam rencong dalam air dan airnya diberi minum kepada orang sakit segera akan sembuh dengan izin Allah. Rencong bahagian pisaunya tidak boleh bergores di tubuh manusia karena akan menimbulkan infeksi yang mengandung racun dan tidak lama kemudian orang itu akan meninggal.

Rencong juga memiliki pantangan yang tidak boleh dilanggarkan diantaranya bila kita ingin memperlihatkan sebilah rencong kepada kawan tidak boleh kita mengeluarkan dari sarungnya. Apalagi kita sampai mempermainkannya atau menyentik-nyentik ujung yang runcing itu dihadapan kawan ataupun di muka umum, hal itu sangat dilarang. Karena akibatnya akan dapat membawa malapetaka bagi sipemiliknya.

Demikianlah khasiat dan bahayanya rencong, oleh karena itu rencong tidak boleh dipakai oleh sembarangan orang apalagi bagi orang yang tidak sabar. Walaupun demikian rencong pada zaman dahulu menjadi rebutan, masing-masing ingin memilikinya. Karena dengan memiliki rencong status sosial mereka berubah karena dia akan ditakuti, disegani dan dihormati oleh kawan maupun lawan.

Di samping persoalan tersebut rencong memiliki keuntungan bagi sipemakainya untuk dihormati dan mendapat rezeki kemana saja dia pergi dan bila dia dalam keadaan susah atau mendapat musibah maka ada saja yang akan menolong dan membantunya sehingga dia terlepas dari malapetaka atau kesusahannya. Ini merupakan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Aceh pada waktu dahulu, pada zaman sekarang kepercayaan tersebut telah bergeser sesuai dengan pergeseran waktu dan pengetahuan, lagi pula rencong ini bukan benda yang sembarangan tetapi telah menjadi benda yang langka.

Adanya perpaduan antara seni dan budaya Islam dalam penciptaan rencong yang berbentuk tulisan Arab (Bismillah) dengan nama Allah merupakan suatu kekuatan yang sangat sakral dapat mengendalikan peri laku kehidupan ummat manusia dengan Allah selaku penciptanya. Menurut catatan sejarah menyebutkan rencong telah memberikan semangat dan dorongan bagi pejuang zaman dahulu untuk mengusir Belanda dari Aceh, sehingga tentara Belanda banyak yang tewas dengan senjata rencong.

Penutup
Dari uraian di atas maka dapat dirumuskan beberapa kesimpulan yaitu :
1. Seni tidak terbatas pada satu ruang lingkup saja, akan tetapi seni meliputi berbagai aspek yaitu : tari, lukisan, ukiran, dan termasuk juga di dalamnya seni kriya. Begitu juga dengan rencong tradisional Aceh, ukiran pada gagang dan model variasinya mengandung perpaduan seni dan budaya Aceh yang Islami. Rencong memiliki bentuk yang indah, bagi masyarakat Aceh tempo dulu rencong sangat berguna, berkhasiat dan juga mahal harganya. Untuk saat sekarang ini rencong tradisional telah menjadi barang yang langka, hanya ada pada orang-orang tertentu dan di tempat penyimpanan-penyimpanan cagar budaya seperti Museum dan di tempat dokumen-dokumen lainnya.
2. Tidak semua masyarakat Aceh dapat membuat rencong, Ini disebabkan oleh tehnik pembuatan yang sulit, biasanya dengan memakai tehnik khusus yang meliputi bahan dan peralatannya.
3. Pada saat mempertahankan kemerdekaan Indonesia, rencong menjadi senjata yang berguna untuk mengusir penjajahan di Aceh.
4. Usaha pembuatan rencong mestinya dilestarikan dan diberikan motivasi untuk pengembangan usahanya.

Penulis:
Cut Zahrina, S.ag adalah Tenaga Bakti pada Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh

Download File Asli:
http://www.pintoaceh.com/hb/hb38/cut_hb38_rencong.rar

3 komentar:

jons selalu mengatakan...

terima kasih sob posting nya bagus


jangan lupa juga kunjungi situs kami di


HTTP://stisitelkom.ac.id

Indra Maulana mengatakan...

sangat menarik dan menambah pengetahuan dengan posting ini... thans y

Anonim mengatakan...

god ,? I love the panel, its super, one thing i miss about irish twelly that and rodge and podge

------------------------------------------------------
icamtech.com|[url=http://icamtech.com]led light bulbs[/url] [url=http://icamtech.com/led_candles]led candles[/url] [url=http://icamtech.com/led_light_bars]led lamps[/url] [url=http://icamtech.com/christmas_led_lights]Christmas led lights[/url] [url=http://icamtech.com/led_ceiling_light]Led ceiling light[/url]